Kegiatan Sudut Baca Perpustakaan SDI Al Munawwarah

Kegiatan Sudut Baca Perpustakaan SDI Al Munawwarah

Upaya Perpustakaan Al – Munawwarah Pamekasan bukan hanya menyediakan Koleksi Buku yang berkualitas dan membina potensi anak didik, namun juga terus berupaya meningkatkan minat baca anak didik di era informasi seperti saat ini. Salah satu perwujudan hal tersebut adalah Kegiatan Sudut Baca. Kegiatan ini merupakan salah satu program dari Perpustakaan SDI Al – Munawarah dalam rangka menstimulasi siswa/siswi meningkatkan minat bacanya. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan di dalam Perpustakaan SDI Al – Munawwarah, namun kegiatan ini juga dilaksanakan di setiap kelas ketika menunggu guru atau disetiap pergantian jam pelajaran.

Tidak hanya itu, kegiatan sudut baca juga bertujuan mengajak siswa untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitasnya, salah satunya dengan mendekorasi sendiri sudut baca yang ada di kelas masing – masing. Kegiatan dekorasi sudut baca ini merupakan program rutin yang diadakan diakhir tahun ajaran dan kelas terbaik mendekorasi sudut baca mendapatkan penghargaan. Harapannya dalam kegiatan ini siswa dapat meningkatkan literasi dan kretivitasnya dengan baik, Untuk mencapai harapan tersebut dibutuhkan peran serta dari seluruh warga sekolah.

Makna Literasi Berubah, Bukan Sekadar Mengenal Melek Huruf

Makna Literasi Berubah, Bukan Sekadar Mengenal Melek Huruf

Jakarta—Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Muhammad Syarif Bando mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memaknai literasi secara luas. Menurutnya, pemahaman bahwa literasi sebagai kemampuan mengenal huruf, kata, kalimat, menyatakan pendapat, dan sebab-akibat, sebagai hal yang lawas. Pasalnya, makna literasi seperti itu sudah berkembang pada masa kemerdekaan Indonesia, tahun 1945. Pada saat itu, proklamator Bung Karno mesti terjun langsung ke masyarakat untuk mengenalkan literasi karena angka melek huruf penduduk Indonesia hanya dua persen. Apalagi saat itu kondisinya tidak didukung oleh anggaran pendidikan nasional. “Sehingga kalau masih bicara literasi versi Bung Karno maka kita bicara jauh mundur ke belakang,” ujarnya.

Kini, kondisinya sudah berubah. Sebanyak 96 persen penduduk Indonesia sudah bica melek huruf. Apalagi anggaran Pendidikan sudah mendapat porsi 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBBN). Karenanya, menurut Syarif, pemahaman mengenai literasi harus berubah. Ini harus dilakukan untuk mendukung terwujudnya SDM Unggul.

“Karena itu literasi di era Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin menurut versi Perpustakaan Nasional yang kami jabarkan dari RPJMN arahan Presiden di sidang kabinet. Yang pertama, kemampuan aksesibilitas terhadap sumber-sumber bahan bacaan terpercaya, terlengkap, terkini. Yang kedua, literasi adalah kemampuan memahami apa yang tersirat dari yang tersurat. Dalam konteks ini mustahil kita bisa mengerti tanpa membaca. Yang ketiga, literasi adalah kemampuan mengemukakan ide atau gagasan baru, inovasi baru, kreativitas baru hingga memiliki kemampuan menganalisis informasi,” ujarnya saat menjadi pembicara utama webinar “Literasi Informasi Berbasis Media Digital” yang diselenggarakan Perpustakaan Politeknik STIA LAN Jakarta, pada Kamis (4/3/2021).

Puncaknya, jelas Syarif, literasi adalah kemampuan menciptakan barang dan jasa bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Dia menjelaskan, banyak produk yang digunakan bangsa Indonesia merupakan produksi luar negeri. Karenanya, dia meminta civitas academica agar menghasilkan lulusan yang mampu menghasilkan produk kompetitif dengan negara lain.

“Maka rasanya kalau literasi hanya sampai tingkatan ketiga, negara ini gak bisa dapat apa-apa. Maka ke depan, literasi yang mesti dibangun civitas academica adalah literasi yang keempat yaitu kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global,” jelasnya.

Syarif menegaskan, tahun ini, pihaknya mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama membangun kondisi literasi di Indonesia yang diklaim minat baca dan indeks literasinya rendah. Menurutnya, dua kondisi tersebut merupakan fakta yang ada di lapangan. Ini adalah kondisi yang terjadi di sisi hilir.

Karenanya, harus ada kerja sama untuk mengatasi kondisi di hulu. Di antaranya, peran negara seperti kebijakan yang dihasilkan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Selain itu, peran akademisi, perguruan tinggi, pengarang, penerbit, dan penerjemah, juga dibutuhkan untuk mengatasi kondisi di hulu. Peran seluruh pihak dibutuhkan untuk memastikan buku tersedia dan bisa sampai ke seluruh pelosok Indonesia.

“Sesuai dengan data Bappenas dan BPS menyatakan 90 persen penduduk Indonesia terjun ke masyarakat dengan modal ijazah SD, SMP, SMA, tidak tembus perguruan tinggi. Karenanya 10 persen yang tembus ke perguruan tinggi dan kurang lebih 7-8 persen yang selesai. Maka masalahnya adalah siapa yang menyiapkan buku untuk masyarakat Indonesia? Ini menjadi tantangan,” urainya.

Literasi tinggi akan menghasilkan produksi massal. Dan ini bisa dibangun melalui pendidikan, khususnya perguruan tinggi, yang menghasilkan lulusan dengan kemampuan menciptakan lapangan kerja. “Harus ada reformasi sistem pendidikan kita di semua lini, terutama di perguruan tinggi untuk memastikan apa yang diharapkan Menteri Pendidikan kita minimal, setelah enam bulan keluar dari kampus, sudah harus menciptakan lapangan kerja. Ini memang cara pandang terhadap pendidikan ini harus dirombak total dalam filosofi mahasiswa,” pungkasnya.

Reporter: Hanna Meinita

Fotografer: Ahmad Kemal Nasution

Perpustakaan yang Memadai, Kunci Kemajuan Pendidikan

Perpustakaan yang Memadai, Kunci Kemajuan Pendidikan

Jakarta—Perpustakaan yang terorganisir dengan baik dan sistematis akan memudahkan penggunanya dalam proses belajar mengajar. Karena fasilitas dan sarana prasarana pendidikan yang baik dan memadai merupakan salah satu kunci dalam kemajuan bidang pendidikan. Ini sesuai dengan peran perpustakaan sebagai pusat informasi, pusat inovasi, dan sumber belajar.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Irjen. Pol. Yazid Fanani menyatakan sebagai pusat informasi, perpustakaan menyediakan informasi yang diperlukan melalui koleksi buku baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagai pusat inovasi, perpustakaan berkembang menjadi persemaian bagi bertumbuhnya gagasan dan ide kreatif untuk menciptakan karya yang bermanfaat bagi orang. Pada akhirnya, karya tersebut akan dibaca dan digunakan oleh orang lain.

“Sebagai sumber belajar merupakan upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas belajar mengajar bagi siswa dan para pendidik,” jelasnya saat menjadi narasumber dalam webinar “Penguatan Budaya Literasi melalui Inovasi Layanan Perpustakaan Berbasis Digital untuk Mewujudkan SDM Unggul” yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI pada Kamis (4/2/2021). Pada kesempatan tersebut, STIK juga meluncurkan perpustakaan digital e-library STIK.

Karenanya, menurut Yazid, pengembangan perpustakaan digital menjadi penting dan harus dilakukan. Perpustakaan digital yang selaras dengan perkembangan teknologi informasi akan memberi manfaat besar dibandingkan dengan perpustakaan konvensional. Menurutnya, ada empat kelebihan perpustakaan digital yakni hemat ruangan, bisa diakses ganda atau multiple, koleksinya bisa berbentuk multimedia, dan tidak dibatasi ruang dan waktu (selama terhubung dengan jaringan internet). Perpustakaan digital milik STIK ini tersedia tidak hanya untuk civitas academica STIK, tapi juga masyarakat umum.

“Harapan saya dengan adanya kemudahan-kemudahan ini, pemberdayaan perpustakaan digital di STIK ini akan semakin membawa nilai-nilai positif utamanya telah meningkatkan minat baca, dalam memudahkan memperoleh referensi pengetahuan, dan akhirnya akan membawa masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang semakin semakin semakin berwawasan untuk mewujudkan sumber daya manusia Polri yang semakin maju menuju Indonesia unggul,” ujarnya.

Sementara itu, Komisioner Ombudsman RI Adrianus Meliala menjelaskan perpustakaan digital sangat bermanfaat untuk meningkatkan mutu akademik dan mutu administrasi akademik. Secara akademik, mahasiswa atau peneliti bisa menyitir bahan pustaka dari perpustakaan lain dan bisa mencari tahu topik penelitian yang paling mutakhir. “Meningkatkan mutu pengajaran di mana semua pengajar bisa mengakses kepustakaan mutakhir dan PTIK tidak hanya menjadi lembaga pencetak sarjana S1, S2, dan S3 bagi Polri, tapi juga bisa menjadi think tank bagi pembuatan kebijakan stratejik, bukan hanya bagi pimpinan Polri tapi juga pimpinan negara,” urai Guru Besar STIK tersebut.

Secara mutu administrasi akademik, perpustakaan digital akan memudahkan dalam mendeteksi plagiarisme, mudah dalam mendata kinerja peneliti, dan mudah mendata kinerja melalui aktivitas yang terekam dalam publikasi menyangkut lembaga atau individual. “Dan dengan adanya digitalisasi, STIK-PTIK berpeluang menambah jumlah program studi, Jadi ketika ingin menambah program studi, back office-nya juga lebih bagus dong. Dalam hal ini, digitalisasi perpustakaan adalah jalan keluar,” ujarnya.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpusnas Deni Kurniadi menyatakan pihaknya terus mendukung penguatan perpustakaan yang berbasis digital. Melalui program unggulan Perpusnas, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, perpustakaan provinsi, kabupaten/kota, dan desa di Indonesia menerima bantuan pendampingan dan pelatihan sehingga masyarakat bisa mendapatkan peningkatan ekonomi. Di sini, perpustakaan menjadi ruang berbagi pengalaman untuk mencari informasi, berbagi pengalaman, belajar sesuai dengan kebutuhan, dan berlatih keterampilan. Dukungan diberikan melalui bantuan sarana prasarana.

Reporter: Hanna Meinita

Fotografer: Ahmad Kemal Nasution

Sumber : https://www.perpusnas.go.id/news-detail.php?lang=id&id=210204112716kw7S8JqenV

Kirim Komentar

Perpusnas Ajak Berbagai Pihak Bersama Kelola Data Digital Naskah Nusantara

Perpusnas Ajak Berbagai Pihak Bersama Kelola Data Digital Naskah Nusantara

Medan Merdeka Selatan, Jakarta- Upaya menjaga kelestarian naskah-naskah nusantara bangsa Indonesia menjadi sangat penting dilakukan salah satunya melalui digitalisasi naskah. Namun sayangnya digitalisasi naskah masih dilakukan sendiri oleh berbagai pihak. Sebagai institusi penjaga peradaban, Perpustakaan Nasional sendiri telah melakukan berbagai upaya pelestarian dengan mendigitalisasi naskah nusantara, salin ulang, dan pembuatan microfilm. Melalui webinar bertema Satu Data Digital Naskah Nusantara yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (4/2) Perpustakaan Nasional mengajak semua pihak dapat bekerja sama mengelola data digital naskah nusantara mulai dari lembaga, perguruan tinggi, hingga masyarakat.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menjelaskan pentingnya naskah-naskah nusantara sebagai bukti peradaban suatu bangsa. “Naskah nusantara memiliki arti penting sebagai bukti peradaban. Melalui naskah nusantara sebuah bangsa dapat membuktikan eksistensi dan posisinya diantara bangsa lainnya pada suatu zaman,” paparnya. Menurut Syarif melalui keberadaan naskah-naskah ini banyak sekali bukti yang sebenarnya menunjukan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki banyak kemajuan bahkan sebelum datangnya penjajah.

Lebih lanjut Syarif menjelaskan harus ada komitmen yang dibangun untuk memastikan perpustakaan bukan hanya sebagai institusi penjaga peradaban. Melalui bukti-bukti sejarah yang disimpan di perpustakaan bangsa Indonesia harus mampu menciptakan teori baru dan pendapat baru yang dapat menjadi bukti perjalanan kemajuan bangsa.

“Tentu harapan semua orang agar naskah-naskah tersebut dapat dibaca dan diketahui oleh masyarakat, sehingga semua bisa memahami sejarah panjang bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Deputi Bidang Pengembahan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Ofy Sofyana mengungkapkan digitalisasi naskah merupakan suatu revolusi dalam upaya perawatan dan pelestarian naskah. Dan perlu adanya sebuah payung bersama dalam pengelolaan naskah nusantara dan repositorinya.

“Melalui webinar ini kami berharap dapat menggandeng seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pelestarian naskah untuk melakukan upaya ini secara bersama-sama,” harapnya.

Ofy juga berharap kegiatan webinar ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dari berbagai kalangan agar dapat memahami pentingnya upaya yang dilakukan dalam mendigitalisasi naskah nusantara. Juga menjaga semangat belajar masyarakat agar tidak pernah putus, terutama di tengah pandemi Covid-19 yang tengah melanda dan menjadi bagian sejarah bangsa Indonesia.

Reportase: Eka Purniawati

Fotografer: Ahmad Kemal N.